Menjaga Kesehatan Mental Orang Tua melalui Praktik Self-Compassion

Oleh: Izza Imania, M.Psi., Psikolog

Bagi sebagian besar orang, momen menjadi orang tua menjadi hal yang membawa kebahagiaan. Lahirnya seorang anak membawa warna dan menjadi harapan di dalam keluarga. Di sisi lain, menjadi orang tua ternyata juga memberikan tantangan besar. Dalam Sesi Scream Free Master Class pada Positive Parenting Conference 2021 yang diadakan oleh afineparent.com, seorang ahli parenting bernama Hal Runkel menyampaikan bahwa menjadi orang tua akan memicu kecemasan terbesar kita. Kita akan selalu dihadapkan pada kondisi cemas terhadap kondisi anak kita, seperti apa perilaku mereka dan bagaimana pencapaian mereka.

Dalam intensitas tertentu, rasa cemas sebagai orang tua diperlukan untuk membantu kita mengantisipasi, mengatur strategi dan konsekuensi dalam praktik pengasuhan anak. Namun ketika kita diliputi oleh rasa cemas berlebihan, ini membawa kita terhadap apa yang ia sebut sebagai anxiety-driven parenting atau pengasuhan yang didorong oleh kecemasan. Dengan demikian, lebih besar kemungkinan kita merasa harus mengontrol anak kita, terdorong untuk memarahi anak ketika perilakunya tidak sesuai ekspektasi, dan bahkan menyalahkan diri kita sendiri.

Kondisi yang umum dialami orang tua adalah memberikan tuntutan besar terhadap diri sendiri dalam praktik pengasuhan. Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai harapan atau kegagalan, besar kemungkinan orang tua menyalahkan dan mengkritik keras diri sendiri yang berpotensi membuat kesehatan mental sebagai orang tua pun terganggu. Padahal, kesehatan mental orang tua sangat penting untuk membesarkan anak yang juga sehat mental.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan sebagai orang tua untuk menjaga kesehatan mental diri adalah dengan melakukan praktik belas kasih terhadap diri sendiri atau dikenal dengan istilah Self-Compassion. Self-Compassion berarti memberikan dukungan emosional kepada diri sendiri saat mengalami penderitaan, memberikan kasih sayang terhadap diri sendiri seperti kita memperlakukan orang lain atau sahabat terdekat kita (Neff, 2000). Dalam berbagai jurnal penelitian disebutkan bahwa praktik Self-Compassion akan membantu menurunkan tingkat kecemasan, mengurangi kebiasan mengkritik diri sendiri, dan meningkatkan kesejahteraan orang tua secara positif. Orang tua yang menerapkan Self-Compassion mampu lebih tenang dan objektif memperhatikan anak serta memenuhi kebutuhan anak dengan lebih baik.

Seperti apa praktik Self-compassion yang dapat kita lakukan sebagai orang tua? Kristin Neff (2001) mengemukakan bahwa Self-Compassion memiliki tiga komponen utama yang sangat penting yaitu Mindfulness, Common Humanity dan Act of Kindness. Mari kita urai satu persatu agar parents memiliki gambaran jelas mengenai praktik Self-Compassion.

Mindfulness

Mindfulness berarti kita menyadari dan menerima kondisi yang kita alami saat ini tanpa penilaian. Kita perlu menyadari sensasi tubuh, pikiran dan emosi yang kita rasakan sepanjang kehidupan kita sebagai orang tua. Apakah tubuh kita terasa lelah, apakah kita merasa tegang dan kaku, apa yang kita pikirkan mengenai diri kita sendiri maupun anak kita dan apakah kita marah, sedih, cemas, atau kecewa? Banyak masalah terjadi ketika kita mengabaikan emosi yang sesungguhnya kita rasakan dan berujung pada kondisi burn out sebagai orang tua. Salah satu bentuk praktik dari mindfulness ini misalnya “saat ini aku kesal sekali, aku marah sekali pada anakku”, “sekarang aku sedang merasa gagal, aku merasa sebagai orang tua yang buruk”, “situasi ini sulit sekali untuk ku” atau “aku lelah sekali, tubuhku pegal dan aku tahu aku perlu istirahat”. Ketika kita terbiasa sadar mengenai kondisi fisik, pikiran, dan emosi kita maka akan lebih mudah untuk mengetahui apa yang kita perlu lakukan untuk mengelola kondisi tersebut agar terasa lebih baik.

Common Humanity

Komponen yang kedua yaitu Common Humanity. Komponen ini mengajak kita membuka kesadaran bahwa kita tidak sendirian dalam kesulitan yang dialami. Melalui Common Humanity, kita membuka wawasan dan penerimaan bahwa setiap orang pasti mengalami ujian atau penderitaan. Sebagai orang tua, penerapan komponen ini dapat dilakukan dengan cara membuka diri terhadap cerita pengalaman orang tua lain dan menyadari bahwa setiap orang tua mengalami kesulitan serta berjuang dalam praktik pengasuhan anak. Memahami setiap fase perkembangan anak juga akan membantu kita menyadari bahwa dalam setiap fase pengasuhan anak akan selalu ada tantangan yang harus dihadapi dan sebagai orang tua kita tidak sendiri. 

Act of Kindness

Komponen terakhir yaitu Act of Kindness yang mengajak kita untuk memperlakukan diri kita sebaik mungkin seperti kita memperlakukan sahabat terdekat kita. Menerapkan komponen ini berarti kita memberi penerimaan terhadap diri, mengatakan kalimat-kalimat yang mampu menenangkan dan menguatkan, juga memberi sentuhan kepada diri sendiri apabila dibutuhkan. Misalnya kita mengatakan “Tadi aku marah sekali pada anakku, tidak apa, wajar kalau aku sangat marah. Tidak apa sekarang menyesal. Aku masih punya kesempatan memperbaikinya lagi” atau kalimat seperti “terima kasih sudah berusaha menjadi orang tua yang baik”atau “selama ini kamu sudah berusaha dengan baik”. Seringkali yang dibutuhkan oleh diri kita bukanlah tuntutan atau kritik tajam. Melainkan sesederhana kalimat “tidak apa apa, tidak apa apa melakukan kesalahan, nanti kamu akan bisa memperbaikinya”. Tak lupa berikan sentuhan hangat di bagian tubuh kita yang terasa tidak nyaman, sakit atau sesak untuk memberikan rasa nyaman.

Ketiga komponen Self-Compassion tersebut apabila secara rutin kita dilakukan maka secara signifikan membantu kita merasa ringan dan bahagia dalam menjalani peran sebagai orang tua. Kita mengurangi beban yang tidak perlu dan hanya memberatkan diri kita sendiri. Di sisi lain, kita justru memberikan penerimaan, penghargaan, dan kasih sayang yang dibutuhkan untuk membuat kita lebih kuat sebagai orang tua. Self-Compassion tidak sama dengan mengasihani dan memanjakan diri. Melainkan lebih banyak memberi kasih sayang dan menguatkan diri untuk dapat menghadapi kesulitan yang sedang dihadapi. Percayalah bahwa semakin kita memberi kepada diri sendiri, maka kita akan punya energi lebih besar untuk menyayangi keluarga kita. Dengan demikian, selain kesehatan mental kita terjaga, kita pun membantu menjaga kesehatan mental keluarga kita.

Bagikan:
Posted on 14 June 2021 under Artikel.

PIP UNPAD

Online
TODAY
Hai, ada yang dapat kami bantu?
© 2024 All rights reserved